"PRAYATNA KERTA GEGANA"

KEWASPADAAN MENGAMANKAN UDARA/DIRGANTARA

Profil Lanud Halim Perdanakusuma

Komandan Lanud Halim Perdanakuma

Marsekal Pertama TNI Ali Gusman, S.T., M.M. lahir di Padang pada 9 Agustus 1974. Beliau merupakan Perwira Tinggi TNI Angkatan Udara dari Korps Penerbang (Angkut). Pendidikan yang telah ditempuh meliputi AAU, Sekkau, Seskoau, Sesko TNI, dan PPRA Lemhannas RI, serta pendidikan akademik S-1 Teknik Elektro Universitas Suryadarma dan S-2 Manajemen SDM STIM IMMI Jakarta.

Sejak dilantik sebagai perwira pada tahun 1996, beliau telah mengemban berbagai penugasan penting di bidang operasi penerbangan, staf, pendidikan, dan komando, termasuk sebagai Ajudan Wakil Presiden RI. Jabatan strategis yang pernah diemban antara lain Komandan Lanud Husein Sastranegara, Direktur Latihan Kodiklatau, Komandan Sekkau, Staf Khusus Kasau, Komandan Pusdiklat Kodiklatau, dan menjabat sebagai Komandan Grup Angkut dengan pangkat Marsekal Pertama TNI. Saat ini Menjabat Komandan Lanud Halim Perdanakuma.

Tugas Pokok

Menyiapkan dan melaksanakan pembinaan dan pengoperasian seluruh satuan dalam jajarannya, pemberdayaan wilayah pertahanan udara dan meyelenggarakan dukungan operasi bagi satuan lainnya.

Pejabat Lanud Halim Perdanakusuma

Komandan Lanud

Marsma TNI Ali Gusman, S.T., M.M.

Kadisops

Kolonel Pnb Nugroho Purbo, M.Han.

Kadispers

Kolonel Pnb Irwanda Syafriadi, M.Sc.

Kadislog

Kolonel Tek Henry Prasetyo, S.T., M.Han.

Kadister

Kolonel Pom Nanda Ruselvi, M.Tr. (Han).

Sejarah

Belanda Menyerahkan Pangkalan Cililitan

Tanggal 20 Juni 1950 ada upacara serah terima yang dilaksanakan di apron base oparation Pangkalan Udara Cililitan. Pihak Militaire Luchvaart (ML) menyerahkan Pangkalan Udara Cililitan dan KSAU Komodor Udara Surjadi Suryadarma mewakili Angkatan Udara RI (AURI) untuk menerima penyerahan itu. Acara itu berlangsung lancar, karena memang pihak ML mentaati hasil Konfrensi Meja Bundar yang dilaksanakan di Den Haag, Belanda.

Konfrensi yang berakhir 23 Agustus 1949 itu diikuti oleh Pemerintah Belanda dan Pemerintah Republik Indonesia yang baru empat tahun merdeka. Hasil konfrensi itu antara lain bahwa ML harus menyerahkan semua Pangkalan Udara yang ada di Indonesia kepada AURI, salah satunya Pangkalan Udara Cililitan. Pangkalan yang diserahkan berikut semua fasilitas yang ada termasuk pesawat-pesawat terbangnya.

Dari fasilitas di Lanud Cililitan yang ikut diserahkan terdapat bangunan-bangunan, hanggar, kantor, gudang-gudang, perumahan anggota termasuk Rumah Sakit. Diantara bangunan itu yang masih ada sampai tahun 2003 ini antara lain Hanggar Skadron 31, Hanggar Skadron 17 dan Hanggar Skatek 021 yang merupakan bukti sejarah. Sementara bangunan lain sudah banyak mengalami perubahan.

Hampir 300 Pesawat Diserakan Kepada AURI

Masih dalam kaitan hasil Konfrensi Meja Bundar, AURI disamping menerima sejumlah Pangkalan Udara dari ML, juga menerima penyerahan hampir 300 buah pesawat terbang bekas pakai ML dari delapan jenis. Jumlah itu terdiri dari 25 pesawat pembom B-25 Mitcchell, 29 pesawat angkut C-47 Dakota, 30 pesawat pemburu P-51 Mustang, 74 pesawat latih lanjut AT-16/T-6G Harvard, 46 pesawat latih dasar BT-13 Valiant, 62 pesawat latih mula L-47 Piper Cub, 22 pesawat latih / pengintai Auster Aiglet dan sembilan pesawat Amphibi PBY-5 Catalina. Penyerahan pesawat-pesawat itu dilakukan di pangkalan Udara Cililitan bersamaan dengan acara penyerahan Pangkalan Udara Cililitan tanggal 20 Juni 1950.

Pesawat Pembom Merah Putih Pertama

Kalau pada tanggal 27 Oktober 1945, sebuah pesawat Cureng beridentitas Merah Putih diterbangkan oleh Pak Adisutjipto di Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta, maka pada tanggal 29 April 1950 sebuah pesawat pembom B-25 Mitchell dengan nomor registrasi M-456 milik ML diserahkan kepada AURI. Pesawat yang berada di Hanggar 3 ML itu sudah beridentitas merah-putih, hari itu ditarik untuk dipindahkan ke Hanggar I AURI. Petugas penariknya adalah seorang tehnisi (flight engineer) bernama Sersan Udara Z. Palmelay. Di Hanggar I AURI, pesawat itu kemudian diperiksa secara teliti oleh para tehnisi sebagai bagian dari rencana penerbangannya pada esok harinya. Untuk rencana penerbangan pesawat pembom beridentitas Merah-Putih untuk pertama kalinya itu, disiapkan seorang Captain Pilot Letnan Udara I PGO. Noordraven, Co-Pilot Letnan Muda Udara I RJ. Ismail, flight engineer Sersan Udara Z. palmelay dan seorang juru radio Sersan Udara Hasibuan.

Pada tanggal 30 April 1950 pagi hari, sebuah bomber B-25 Mitchell M-156 dengan lambang bendera Merah-Putih diekornya, mulai lepas landas di landasan pacu Pangkalan Udara Cililitan. Pesawat itu terbang dengan mulus diatas Pangkalan dan sekitar angkasa Jakarta selama 1 jam dan mendarat dengan selamat. Hari itu sebuah pesawat pembom AURI terbang untuk pertama kali di angkasa negaranya sendiri dan diawaki oleh bangsanya sendiri. Setelah itu, dengan pesawat yang sama diawaki Captain Pilot RJ. Ismail dan Co-Pilot Letnan Udara Satu Patah serta tiga awak lainnya Sersan Hasibuan, Sersan Palmelay dan Kopral Udara Manapa ditugaskan untuk membantu Panglima Teritorium IV di Makassar untuk melaksanakan operasi bantuan udara

Masih dengan pesawat pembom B-25 Mitchell M-456 ditugaskan untuk mengantar KSAU Komodor Udara S. Suryadarma ke Singapura, menghadiri peringatan Hari Jadi RAF tanggal 9-10 Desember 1950 di Pangkalan Udara Changi. Para awak B-25 adalah Letnan Muda Udara I RJ. Ismail (Pilot), Letnan Udara I Suharsono Hadinoto (Copil), Sersan Udara Z. Palmelay, Sersan Udara Agus dan Sersan Udara Slamet.

Skadron Udara Dibentuk

Dari delapan jenis pesawat terbang yang diserahkan ML kepada AURI dengan jumlah yang hampir 300 buah itu. Kemudian dipikirkan penempatannya. Melalui penetapan KSAU Nomor : 2811 / KS / 1951 tanggal 21 Maret 1951, dibentuk Group Operasional yang berisi empat Skadron Udara bagi pesawat-pesawat yang berada di Pangkalan Udara Cililitan, Jakarta, yaitu Skadron I Pembom pesawat B-25 Mitchell, Skadron Udara III Pemburu pesawat P-51 Mustang. Skadron Udara IV Pengintai pesawat Auster dan Piper Cub dan Skadron V Angkut Operasional pesawat C-47 Dakota dibentuk di Pangkalan Udara Andir, Bandung dengan nama Djawatan Angkutan Udara Militer (DAUM).

Baru sebulan Skadron-Skadron Group Operasional terbentuk, menyusul Penetapan KSAU Nomor 28A/II/KS/1951 dengan susunan Skadron udara yang baru, yaitu Skadron I Pembom pesawat B-25, Skadron II Angkut pesawat C-47 Dakota. Skadron III Pemburu pesawat P-51 Mustang, Skadron IV Pengintai Darat pesawat Auster dan Skadron V Pengintai Laut pesawat PBY-5A Catalina.

Lanud Tjililitan Menjadi Lanud Halim Perdanakusuma

Melalui Surat Keputusan KSAU Nomor : 76/ 48/ PEN-2/52 tanggal 17 Agustus 1952, maka nama Pangkalan Udara Tjililitan diganti dengan Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma. Dalam surat keputusan itu, juga diubah nama tiga Pangkalan TNI AU yang lain yaitu Pangkalan TNI AU Maguwo di Yogyakarta menjadi Adisutjipto, Pangkalan TNI AU Bugis di Malang menjadi Abdulrachman Saleh dan Pangkalan TNI AU Andir, Bandung menjadi Husein Sastranegara.

Acara pergantian nama Pangkalan Tjililitan itu antara lain ditandai dengan pembukaan selubung nama Halim Perdanakusuma di pintu gerbang yang bentuknya masih sangat sederhana, bertepatan dengan acara peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-7.

Scroll to Top